Mencoba mencarimu, ya aku mencoba mencarimu. Di antara tumpukan buku-buku tua, di antara bunga-bunga di taman, di antara awan yang berarak, di tengah sinar matahari di siang hari yang panas. Tapi tak kunjung juga ketemu. Sudah kucoba mencari, seperti seekor anak tikus yang kebingungan mencari lubang persembunyiannya lagi. Atau seperti seorang anak yang tersesat di antara kerumunan orang di pusat perbelanjaan yang sibuk. Aku mencoba mencarimu, 

Sekarang kuharap engkau yang mencariku, lalu menemukanku. Menggendong aku seperti seorang penggembala yang begitu bahagia menemukan kembali kambingnya yang hilang dari kawanan.
Ini bukan tentang kiasan dalam buku-buku kitab suci. Ini adalah tentang hidup nyata dan rasa suka cita, rasa suka cita yang muncul saat kita menemukan dan ditemukan. Oleh seseorang atau yang lebih tepatnya adalah sesuatu. Sesuatu, dari jenis kita sendiri, dari jenis dan spesies kita. Jenis dan spesies manusia, merasa begitu apa adanya merasa begitu ringan, simple, dan menjadi bagian dari kehidupan-kehidupan kita sendiri sebagai manusia. Merasa sangat manusiawi, yang selalu membutuhkan dan dibutuhkan. Sebagaimana kita merasa kosong, saat tidak ada yang menemukan dan menjadikan kita serasa manusia. Biasa.  

Apakah lagi yang menjadikan kita sebagai manusia selain ada dalam kerumunan, kerumunan spesies kita? Spesies manusia. Sebab menjadi sangat manusia adalah sesuatu hal yang sangat jarang terjadi saat ini, kita lebih sering menjadi tidak manusia dalam banyak hal. Dengan segala kemauan kita, dengan kemampuan kita, dengan keterbatasan dan keterpaksaan kita, saat itulah kita menjadi tidak manusia.

Dan akhirnya aku malam ini memilih untuk tidur dengan rambut basah dan meneruskannya besok pagi. Serta berharap menjadi manusia lagi. Menjadi ada, dengan hakikat keadaan manusiawi, dalam kata serta. Menjadi tiada dalam rimba jiwa, dalam lautan gerak pe-manusia-an setiap hariNya, ingin tetap ada dalam kebebasan kehendak yang tidak tak terbatas, tetap menjadi manusia, biasa, dan selalu mencoba menemukan.

Namun malam-malam  melelahkan itu, pencarian habiskan energi hidup. Tak ada guna rasanya, yah pikir ini lelah sudah tak ada lahirnya kerahiman kata “pikir itu pelita hati”, sudah lenyap maknanya “ habis gelap terbitlah terang”, itu tumpukan buku cuma dalil, yah tak ada ketulusan pada mereka, seakan tentara bayaran berbaris menuju medan perang.

Dulu, ya dulu sekali ketika kujumpa pertama, engkau begitu perkasa dengan barisan  rapi, seakan para pahala-wan berangkat ke medan tanpa niatan pertunjukan lencana keberhasilan, tanpa pamrih lelah terbayar sematan mutiara di dada. Itulah sebab aku terus mencoba mencari hingga kadang lelah dan putus asa, tidur dengan rambut basah, berkerumun-kerumun jua.

Sebab jika tak terlakukan aku takut papa dan lemah jua, aku takut lemah dan papa. Dan ungkapan ku pada bait awal, kau akan datang sendiri mengendongku, tak biarkan aku lelah menjadi hanya begitu saja, tak biarkan aku hilang sebelah, hilang rasa ringan dan cinta itu, cuma jargon dibilangnya. Yah cuma jargon, meski sungguh itu ada dalam setiap hakikat goresan pena, getaran pita suara, hormonal membuncah dan aroma sedap bawang putih goreng yang terbang-terbang membentuk kepulan, dan semua bilang cuma jargon yah, lalu….

Kembali lalu, deru kendaraan ini pindahkan bentuk wadak tubuh. Dan ditempat lain aku berada dalam kaitannya untuk mencoba mencarimu, dalam bukan kiasan kitab suci, dalam ingin rasa itu, rasa yang menemukan dan ditemukan. Lalu terjadilah pergumulan, aku rasa inilah aku menemukan dan ditemukan. Aku rasa inilah aku dalam spesies-ku hingga deru kereta menyibak gelapnya terowongan, terowongan gulita dengan kereta zonder nyala pula. Akh, hempasan dua pertiga angin pegunungan, dan seakan seluruh air lautan tumpah ke daratan ternyata mors est quies viatoris-finis est omnis laboris*, lihat ini bukan menemukan apalagi ditemukan.

Dan selalu terus ada yang menertawai.

Semua bertumpu pada satu kata, “maka” berwarna merah, entah kenapa ia berwarna merah. Adakah bersolek bermaksud indah, adakah ingin menonjol di antara semua dan hei, lihat kita ini manusia, ataukah kita terpaksa karena kita adalah mahluk yang berpemikiran? Ya mungkin karena kita berpemikiran itulah kita masuki spesies. Kita terpaksa menjadi manusia sebab sudah terlanjur ter-spesies-kan, ter-spesies-kan dan berpemikiran. Dan lupakah jika tegaknya pepohonan mencari matahari adalah berharap menemukan sinar, berharap dedaunannya tersentuh pendarnya. 

Aku kembali ke awal ke tumpukan buku-buku, ke bunga-bunga di taman,  ke awan-awan yang bergerak pada terik matahari siang.

Terbukalah semua, diantara tumpukan buku kutemukan kalimat, diantara bunga-bunga kutemukan gerakan, yang sama dengan awan yang bergerak pada terik matahari siang. Aku lega, tak pernah kau kemana-mana tak perduli kerumun atau sendiri. Sebagaimana, “mors est quies viatoris-finis est omnis laboris”. Engkau mudah ditemukan dan menemukan, tak peduli saat kereta masuk terowongan gulita zonder lentera.

Begitulah, ini sebentar lagi fajar rekah 04.15 jarum jam tunjukan. Aku tenang, meski tak mengerti sebabnya. 3 Tiga jam lalu dada serasa lautan, meski masih lebih hebat ombak lautan, namun lautan kalah dengan apa buncah rongga dada, sebab telinga temukan bunyi ombak lautan, mata temukan dinamika gerak airnya. Namun rongga dada buncah, tak ada telinga temukan bunyi, tak ada mata temukan dinamika geraknya.

Adakah air di luar bertiup sepoi dan tebarkan biji bunga-bunga di padang. Jawab entah, namun rongga dada rasakan ya, sebab aku berasa tenang seakan dengarkan desir lembut angin, dan menatap kumpulan bebijian bunga padang yang terbang, putih, lembut melayang-layang.

Indah, adalah kehadiran. Kehadiran berarti perjumpaan, jumpa Engkau temui aku, Aku ditemui engkau, engkau dipertemukan Engkau.

Aku tidak berada di padang, hanya temukan rasanya, dan jadi indah. Maka adakah aku telah menemukanmu, adakah aku telah ditemukanmu. Entah sebab Maka hadir kembali.  

Malang, 14 Agustus 2009
4.52 AM

* kematian adalah istirahat musafir akhir segala jerih payah penerjemah buku; dikutip dari novel “The name of the rose”, Umberto eco hal 77
   Zonder [bhs Belanda] = tanpa , tidak pake/pakai